Demo Komite Penyelamat Aset Negara Dihadang Aksi Bela Soeharto

Demo Komite Penyelamat Aset Negara Dihadang Aksi Bela Soeharto

BAGIKAN
Aksi unjuk rasa sekelompok orang yang menamakan diri Komite Penyelamat Aset Negara di depan Gedung Graha Dana Abadi (Granadi), Kuningan

kamarberita.com, JAKARTA – Aksi unjuk rasa sekelompok orang yang menamakan diri Komite Penyelamat Aset Negara di depan Gedung Graha Dana Abadi (Granadi), Kuningan, Jakarta Selatan, ternyata mendapat ‘perlawanan’ dari massa yang mengaku Aksi Bela Soeharto.

Massa Aksi Bela  Soeharto mendatangi Gedung Granadi secara berkelompok. Sebagian diantaranya mengenakan baju biru dongker bertuliskan Brigade HMS. HMS merupakan akronim dari Haji Muhammad Soeharto.

Sutesna, salah seorang anggota Aksi Bela Soeharto, mengaku kedatangannya dan teman-teman lainnya untuk menghadang unjuk rasa yang digelar oleh Komite Penyelamat Asset Negara.

“Semua masih  proses hukum. Kami pastikan tidak akan ada penyitaan,” kata Sutesna di Gedung Granadi, Senin (17/12/2018).

Sutesna juga mengaku penghadangan terhadap massa anti Soeharto atas inisiatifnya sendiri. Karena kebetulan dirinya bersahabat dengan anggota keluarga Cendana yang bernama Ibnu Riza Sulistyo Pradibto.

Ibnu diketahui merupakan cucu dari KPH Ibnu Widoyo yang notabene adik kandung Tien Soeharto.

Sutesna menilai mantan Presiden Soeharto memiliki jasa besar atas bangsa ini, seperti mrmberikan beasiswa kepada ribuan mahasiswa berprestasi melalui Yayasan Supersemar.

“Beliau juga membangun Rumah Sakit Harapan Kita yang merupakan pusat jantung dan Rumah Sakit Dharmais yang nerupakan pusat penelitian penyakit kanker,” kata Sutesna.

Belum lagi ribuan masjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Bhakti Pancasila yang digagas Soeharto.

Aksi unjuk rasa oleh dua massa tersebut merupakan buntut penyitaan gedung milik keluarga Cendana itu oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hal ini merupakan tindak lanjut dari putusan Mahkamah Agung (MA) atas gugatan Kejaksaan Agung terhadap Yayasan Supersemar milik Keluarga Cendana.

Dalam putusannya, MA mewajibkan Yayasan Supersemar milik keluarga Soeharto membayar Rp 4,4 triliun atas penyelewengan dana beasiswa. (al)

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR