8 Jenis Tanaman Narkotika Ini Bahan Meracik Obat Mujarab

8 Jenis Tanaman Narkotika Ini Bahan Meracik Obat Mujarab

BAGIKAN
Balack Hanbane

Kamarberita.com Penggunaan tanaman Narkotika  tidak hanya marak di dunia modern. Pada zaman dahulu kala, dalam kebudayaan kuno, orang-orang purba menggunakan daun koka (Erythroxylum coca) hingga buah pinang (Areca catechu) untuk meracik obat-obatan tradisional yang dianggap mujarab.

Koka adalah tumbuhan asli di barat laut Amerika Selatan. Tanaman ini memainkan peran penting dalam budaya Andes tradisional. Daun koka mengandung alkaloid kokain, dasar pembuat kokain (salah satu jenis Narkotika), yang merupakan stimulan kuat. Sedangkan di dunia Barat, pinang dikenal sebagai betel nut, biji buah pinang merupakan salah satu campuran orang makan sirih, selain gambir dan kapur.

Biji pinang mengandung alkaloida seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolina (arecoline), yang bersifat racun, adiktif, dan dapat merangsang otak (menciptakan halusinasi). Sementara itu, beberapa macam pinang, bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah.

Di India, masyarakatnya kerap menggunakan pala sebagai zat perangsang nafsu berahi. Sedangkan Suku Maya mengonsumsi daun koka yang ditumbuk halus untuk memasuki dunia khayalan, di mana pikiran bahagia dengan mudah hilang.

Lalu apakah ada narkotika lain yang digunakan oleh manusia zaman dahulu kala untuk pengobatan? Mengutip Wonderlist, Rabu (19/9/2018), sedikitnya ada 8 tanaman termasuk dalam  Narkotika  yang dipakai orang-orang masa lalu untuk meramu obat.

1. Peyote – Digunakan Oleh Penduduk Asli Amerika

Peyote (Lophophora williamsi) adalah tanaman gurun yang dikenal karena mampu memantik halusinasi yang kuat. Jenis kaktus ini berasal dari Gurun Chihuahan, tepatnya di lembah Rio Grande, Texas dan di selatan Luis Potosi, Meksiko.

Antara tahun 8.000 hingga 2000 SM, obat-obatan yang digunakan di Amerika Utara sebagian besar mengandung tumbuhan tersebut –dan cukup populer di kalangan masyarakat pribumi.

Konon selama Perang Sipil, tentara di Texas sering minum teh peyote sebelum berperang. Hal tersebut dihubungkan dengan penemuan satu paket peyote di sebuah situs kuburan yang dibangun pada 3000 SM.

Salah satu fakta paling menakjubkan tentang peyote adalah tanaman ini cukup mudah untuk disiapkan menjadi obat. Daunnya direbus sekali dan akan langsung berubah menjadi cairan berbentuk mirip teh. Akan tetapi, efek samping orang yang mengonsumsinya yaitu berhalusinasi.

Peyote berukuran kecil dengan diameter kurang dari 12 cm dan berbentuk bulat. Potongan-potongan batang peyote yang kering kerap dikunyah oleh orang Indian sebagai obat dan dipakai dalam upacara-upacara keagamaan.

Peyote telah lama menjadi barang dagangan. Kaktus ini dipanen secara komersial di Texas, meskipun kini penjualannya dibatasi oleh Native American Church (NAC). Dalam setahun, peyote setidaknya bisa dipanen dalam jumlah jutaan.

Di samping itu, peyote merupakan tanaman yang umum dipakai di pabrik alkaloid yang memproduksi lebih dari 50 senyawa kimia. Obat-obatan yang mengandung peyote memiliki beberapa efek setelah dikonsumsi. Seseorang yang memakannya dalam jumlah kecil akan merasa berenergi, sedangkan bila dikonsumsi dalam jumlah besar akan menyebabkan mual selama beberapa jam.

2. Ganja – Digunakan di Asia Tengah dan Selatan

Peneliti percaya bahwa manusia telah menggunakan ganja selama berabad-abad. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan psikoaktif tersebut di sebuah situs makam berumur 2.700 tahun di Tiongkok. Satu pak Cannabis sativa berbobot 789 gram ditemukan di kuburan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa almarhum adalah ‘penggemar’ garis keras ganja.

Di era modern saat ini, ganja sudah mulai dilegalkan di beberapa negara. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah Dewa Siwa menggunakan produk olahan ganja untuk melakukan ritual penyembahan. Caranya yakni dengan menghisap hashish melalui pipa chilam atau chillum, dan dengan meminum bhang.

Ganja adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal sebagai obat psikotropika karena adanya kandungan zat tetrahidrokanabinol (THC atau tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Di banyak negara Barat, ganja dimaanfaatkan untuk keperluan medis dan penghilang rasa sakit. 

Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter, berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dan terletak di ujung ranting. Sementara itu, ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantong tas, karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak. Namun, karena ganja juga dikenal sebagai narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, maka orang banyak menyalahgunakan tumbuhan tersebut.

3. Pinang – Digunakan di Asia Timur dan Tengah

Buah pinang (Areca catechu) telah ada selama ribuan tahun. Sejumlah bukti mengungkapkan bahwa obat-obatan berbahan dasar buah pinang, sudah ada sejak 13.000 tahun yang lalu, terutama di Pulau Timor di Australia bagian utara.

Mengunyah pinang diduga bisa mendatangkan perasaan hangat pada tubuh penggunanya dan meningkatkan kesadaran otak. Konon ketika memakan pinang, rasa pahit yang ditimbulkan dari buahnya setara dengan tiga cangkir kopi hitam yang pahitnya kuat.

Selain bisa menguatkan gigi, menginang dengan pinang bisa menimbulkan efek samping seperti air liur yang memerah. Sehingga ludah akan tampak bak darah.

Sementara itu, biji pinang biasanya digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita. Zat lain yang dikandung buah ini antara lain arecaidinearecolidineguracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya.

Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah dan kudisan. 

Akar pinang jenis pinang itam, pada masa lalu digunakan sebagai bahan peracun untuk menyingkirkan musuh atau orang yang tidak disukai. Pelepah daun yang seperti tabung (dikenal sebagai upih) digunakan sebagai pembungkus kue dan makanan. Umbutnya (ujung batang) dimakan sebagai lalapan atau dibikin acar.

Batangnya kerap diperjual belikan, terutama di kota-kota besar di Jawa menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, sebagai sarana untuk lomba panjat pinang.

4. Tembakau – Digunakan oleh Penduduk Asli Amerika

Sebagian besar dari kita percaya bahwa tembakau (Nicotiana tabacum) adalah obat modern. Tembakau telah digunakan sejak zaman Indian Merah (Red Indians). Kala itu, sekitar Abad ke-16, tembakau telah digunakan sebagai entheogen (zat kimia penghasil halusiansi untuk tujuan spiritual) di Amerika.

Kedatangan bangsa Eropa ke Amerika Utara memopulerkan perdagangan tembakau, terutama sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan.

Setelah Perang Saudara di Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-perusahaan tembakau, hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan Abad ke-20.

Di satu sisi, orang-orang Indian percaya bahwa tembakau adalah tanaman suci, karunia dari Tuhan yang memungkinkan mereka ‘mencapai surga selama beberapa jam’.

Terdapat beberapa spesies dalam genus Nicotiana yang bisa disebut tembakau. Genus ini merupakan bagian dari famili Solanaceae. Berbagai tumbuhan tersebut mengandung nikotin atau senyawa neurotoksin yang mampu mematikan serangga.

Tembakau adalah tumbuhan yang mengandung jumlah nikotin tertinggi dibandingkan tumbuhan lainnya, namun tidak seperti tumbuhan dari famili Solanaceae lainnya, tembakau tidak mengandung senyawa tropan alkaloida yang beracun bagi manusia.

5. Daun Koka – Digunakan Oleh Suku Maya

Suku Maya dikenal sebagai bangsa kuno yang kerap memanfaatkan koka (Erythroxylum coca). Selain untuk membuat teh, daun koka juga jadi bahan utama peracik obat kokain, karena mengandung 0,7% kokain. Daun koka diaplikasikan untuk fermentasi dan memproduksi obat stimulasi yang kuat.

Daun koka adalah salah satu obat terampuh di dunia. Dosis 100 gram daun koka mengandung vitamin, zat besi, kalsium dan fosfor yang dibutuhkan setiap hari untuk pria dewasa. Tetapi apabila berlebihan bisa membahayakan tubuh manusia.

Koka berbentuk semak duri hitam dan tumbuh hingga mencapai tinggi 2-3 meter. Cabangnya lurus dan daunnya berwarna hijau, tipis, gelap, oval, serta runcing di bagian ujung. Daun koka juga memiliki karakteristik khusus, yaitu dikelilingi dua garis melengkung membujur, satu garis di sisi lain daun dan yang paling jelas di bawah daun.

Daunnya kadang-kadang dimakan oleh larva ulat bulu Eloria noyesi. Bila dikunyah, lama kelamaan daun koka akan menimbulkan sensasi segar.

6. Black Henbane – Digunakan oleh Budaya Eurasia

 

Henbane black

Black Henbane (Hyoscyamus niger). (Wikipedia/Creative Commons)

Black Henbane (Hyoscyamus niger) adalah nama tumbuhan yang jarang terekspos masyarakat global. Salah satu penyebabnya adalah tanaman ini sangat sulit ditemukan dan hampir berada di ambang kepunahan.

Dianggap sebagai salah satu obat terbesar yang digunakan dalam budaya kuno, Black Henbane memiliki beberapa nama lain yang mungkin terdengar akrab, seperti ‘stinking nightshade’ atau ‘apollinarix’.

Biasanya tumbuhan ini digunakan untuk tujuan pengobatan. Tetapi bila benihnya difermentasi, maka obat-obatan tersebut akan sangat memabukkan dan berubah menjadi minuman yang nyaris serupa bentuk dan warnanya dengan bir.

Belum diketahui dengan pasti asal-usul ditemukannya tumbuhan ini, namun diperkirakan muncul pada tahun 1265 Masehi di kawasan Eurasia, dan sekarang didistribusikan secara global sebagai tanaman yang digunakan untuk tujuan farmasi.

Henbane adalah flora langka di Eropa utara, namun budidaya Henbane untuk penggunaan obat telah tersebar dan legal di Eropa tengah serta timur, juga di India.

Henbane adalah tanaman yang terancam punah, menurut Red List World Conservation Union.

Henbane dapat diolah menjadi jamu tradisional untuk sakit tulang, rematik, sakit gigi, asma, batuk, penyakit saraf dan sakit perut. Henbane juga dapat digunakan sebagai analgesik, obat penenang, dan narkotika di beberapa budaya.

Ekstrak Henbane di sebagian besar negara Barat dapat dibeli di apotek, namun harus menggunakan resep dokter. Penjualan minyak tumbuhan ini tidak diatur secara hukum dan diizinkan di toko-toko komersil.

Daun an biji Henbane mengandung bahan psikoaktif alami dan murni seperti hyoscyamine, skopolamin, dan alkaloid tropane. Standar alkaloid yang boleh digunakan saat ini adalah 0,28% dari yang semula 0,03%.

Eefek umum dari konsumsi tumbuhan ini meliputi halusinasi, pupil membesar, gelisah dan kulit memerah. Efek yang jarang terjadi seperti kejang, muntah, hipertensi, hiperpireksia dan ataksia. Efek awal biasanya berlangsung selama tiga hingga empat jam, sementara efek samping bisa bertahan hingga tiga hari.

Efek sampingnya adalah kekeringan di mulut, kebingungan, gangguan ingatan, dan rabun dekat. Overdosis konsumsi Henbane yakni delirium, koma, kesulitan pernapasan, hingga kematian.

7. Jamur Sihir – Digunakan di Sekitar Gurun Sahara, Amerika Tengah 

jamur sihir

Sebuah survei mencatat bahwa jamur sihir atau magic mushroom (Psilocybe semilanceata) pertama kali dibudidayakan di Aljazair antara 9.000 dan 7.000 SM. Kala itu, jamur ini dikenal dengan sebutan ‘jamur ajaib’.

Kemudian antara 1.000 dan 500 SM, jamur itu digunakan di Amerika Selatan oleh penduduk yang sering melakukan hal-hal spiritual. Banyak yang percaya bahwa ‘masuk ke alam gaib’ –atau trans– bisa membuat seseorang melihat apa yang tidak dapat mereka lihat. Oleh karena itu, jamur ini dianggap suci dalam beberapa kebudayaan kuno.

Studi tentang obat-obatan telah membuktikan bahwa beberapa evolusi spiritual dimulai karena halusinasi akibat mengonsumsi jamur sihir. Seorang ahli halusinogenik, Terence McKenna, pernah menulis, “Saya yakin bahwa jika tidak ada sejarah perdukunan, maka tidak akan ada kehidupan yang lebih tinggi, seperti yang kita ketahui, di planet ini.”

Jamur sihir atau psilocybin mushroom atau disingkat shroom adalah kumpulan berbagai jenis jamur yang memberikan efek halusinasi, jika dikonsumsi. Hal ini disebabkan karena kandungan psilocybin, psilocin, dan baeocystin yang terkandung di tubuh jamur.

Ada lebih dari 100 spesies yang termasuk dalam jamur jenis Psilocybe. Mengkonsumsi jamur ini menyebabkan euforia, pola pikir yang berubah, efek visualisasi (halusinasi) saat menutup atau membuka mata, sinestesis, perubahan persepsi terhadap waktu, dan pengalaman spiritual.

8. Candu – Digunakan oleh orang Sumeria, Asyur, Mesir, India, Yunani dan Roma

Opium

Opium (Papaver somniferum) atau candu diduga sudah ada selama manusia purba pertama hadir di Bumi. Selama berabad-abad, opium digunakan untuk tujuan pengobatan seperti penghilang rasa sakit, membuat tidur nyenyak dan menyembuhkan diare.

Konon di China pada Abad ke-16, opium digunakan untuk meningkatkan gairah seks penduduk Tiongkok. Bahan candu berasal dari getah yang ditemukan di kulit bunga poppy. Getahnya mengandung hingga 12% morfin yang memberi opium kekuatan untuk melakukan ‘tugas’ tersebut.

Berbicara tentang sejarah obat, opium diyakini telah dibudidayakan untuk pertama kalinya pada 3.400 SM oleh bangsa Sumeria –sebuah peradaban kuno di Mesopotamia selatan, pada masa kini di selatan Irak, selama masa Chalcolithic dan Abad Perunggu Awal atau bangsa yang pertama kali mendiami kawasan Mesopotamia. Mereka menyebutnya ‘tanaman kegembiraan’.

Saat ini, bunga poppy lebih sering digunakan untuk membuat teh. Namun pada zaman dahulu kala, opium kerap dikaitka dengan Dewa Tidur, Dewa Malam, dan Dewa Kematian.liputan6 */kb).

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR