Dalimunte Sprinter Tunanetra, Berjuang Keras Persembahkan Hasil Terbaik untuk Indonesia

Dalimunte Sprinter Tunanetra, Berjuang Keras Persembahkan Hasil Terbaik untuk Indonesia

BAGIKAN

Keterbatasan penglihatan tidak menyurutkan asa sprinter Indonesia ini, pria yang lahir Tiga puluh empat tahun lalu di Medan, Sumatera Utara , bernama Abdul Halim Dalimunte. Paralympian yang akrab disapa Halim ini menderita pelemahan retina sejak kecil.

Kala usianya bertambah Halim dan keluarganya pindah ke Bekasi, Jawa Barat. Sepulang sekolah, waktunya kadang dia habiskan untuk bermain dengan rekan sebayanya. Dia berlari ke sana ke mari menendang bola dengan bebasnya. Sepak bola adalah cintanya kala itu.

Namun, lama-lama Halim merasa ada yang aneh pada matanya, jarak penglihatannya perlahan menurun. Halim divonis mengidap ablasio retina, sebuah kondisi lepasnya retina dari jaringan yang menopangnya.Hingga akhirnya, dia benar-benar kehilangan penglihatannya saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Halim mengaku sempat menjalani berbagai terapi untuk memulihkan penglihatannya, tapi tidak berhasil.

“Awal mengalami buta total, saya merasa sendiri. Saat teman-teman sebaya bermain di luar rumah, saya hanya mengikuti terapi mata hingga akhirnya saya keluar dari sekolah umum,” kata Abdul Halim Dalimunte

Setelah sempat terpuruk dan merasa sendirian, Halim mampu bangkit dan kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia termotivasi penyandang tuna netra lain yang mampu berprestasi di tengah keterbatasan mereka.

halim kemudian melanjutkan sekolah di PSBN Wiyataguna Bandung. Di sana, dia kemudian berlatih olahraga dan mulai mengikuti berbagai perlombaan tingkat sekolah hingga akhirnya digandeng National Paralympic Committee (NPC) Indonesia .

“Saya teringat ada orang buta total yang bisa main catur, bisa menang. Saya jadi termotivasi untuk bisa bangkit, dan akhirnya saya melanjutkan sekolah di PSBN Wiyataguna di Bandung,” ujarnya.

“Dulu waktu sekolah di Bandung, saya hanya ikut-ikutan. Hingga akhirnya, saya mendapat panggilan dari BPOC (sekarang NPC) untuk mengikuti seleksi dan akhirnya saya lolos,” katanya menjelaskan.

Pada 2010, Halim mengikuti seleksi dan langsung lolos untuk berlaga di Peparda Bandung. “Saat itu saya berhasil meraih dua emas. Sejak saat itu saya direkrut dan mengikuti pelatnas pada 2011 hingga sekarang,” ujarnya. Kini, Halim menjadi salah satu atlet paralimpik andalan Indonesia. Dia berhasil meraih medali perunggu di Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Kali terakhir, dia menyabet medali emas di Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Meski tidak ditargetkan menggondol medali emas di Asian Para Games 2018, Halim tetap akan berjuang keras mempersembahkan hasil terbaik untuk Indonesia. “Kalau saya tidak ditarget emas, cuma perak. Tapi saya harap bisa memperoleh medali emas,” kata dia.

Halim mengaku pelari-pelari asal China bakal menjadi lawan terberat di Asian Para Games yang mulai digelar di Jakarta 6 Oktober nanti. Saat menjalani try out di Beijing, China, catatan waktu Halim kalah 10 detik dari sprinter tuan rumah. “Sebenarnya lawan terberat menurut saya adalah diri sendiri. Sebab, membina mental itu tidak mudah,” katanya sambil berkelakar. Halim telah menjalani pemusatan latihan di Solo selama 10 bulan sebelum bertolak ke Jakarta, Minggu (30/9/2018). Dia mengaku tidak mengalami kendala berarti selama persiapan. Satu-satunya kendala baginya adalah rasa rindu kepada anak dan istri yang tinggal di Bandung. “Paling saat anak saya lagi sakit, kadang kepikiran sedikit tapi ya saya percaya sama keluarga di rumah pasti anak saya sembuh,” pungkasnya. Dikutip dari beberapa sumber.Kompas, kumparan *kb).

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR