Kemarau Panjang Petani Kopi dan Jagung Gagal Panen

Kemarau Panjang Petani Kopi dan Jagung Gagal Panen

BAGIKAN
Tanaman Kopi

Kamarberita.com – Bener Meriah – Akibat kemarau panjang yang terjadi  Petani kopi di Kabupaten Bener Meriah mengalami kerugian, perkiraan panen kopi raya yang terjadi dalam rentang waktu antara bulan September hingga November, akibatnya sebagian buah tak berisi dan rusak.

“Untuk gelondongan kopi banyak yang kosong atau tanpa biji. Sehingga, ketika kami tawarkan untuk dijual ke toke kopi, mereka meminta untuk dilakukan proses pencucian dan perendaman terlebih dahulu, sehingga gelondongan kopi yang kosong atau rusak akan mengapung, barulah toke kopi mau membeli kopi kami,” jelas Winsyah, petani kopi yang asal Kecamatan Bandar. Dikutip dari Serambi, Minggu (16/9).

Akibatnya, sebut Winsyah, setiap satu kaleng buah kopi yang didapat saat panen akan berkurang hampir mendekati 50 %. Menurut dia, tahun ini merupakan terparah dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

“Tahun lalu saat musim panen, penghasilan bersih dari kopi per kaleng antara Rp 100.000-110.000. Kini, kami harus potong setengahnya, karena setengah kaleng buah kopi rusak dan kosong,” keluhnya.

Dikatakan, kalaupun ada toke kopi yang mau membeli kopi per kaleng setelah dipanen dan tanpa proses pencucian serta perendaman, harganya bisa terpaut jauh dari harga selama ini, bahkan bisa mencapai Rp 30.000-50.000 per kaleng. Pasalnya, toke kopi takut merugi, karena dikhawatirkan lebih banyak gelondongan kopi yang kosong daripada yang berisi.

“Seperti itu harga yang ditawarkan kepada kami, tapi karena kebutuhan hidup banyak, petani juga terpaksa setuju dengan tawaran harga demikian,” ungkapnya.

Sementara itu, seorang toke kopi, Zulfan Ariga, mengatakan, pihaknya terpaksa menerapkan aturan ketat dan memberikan harga tersebut, lantaran buah kopi kebanyakan kosong. Ia berpendapat, jika pihaknya membeli kopi dengan harga normal seperti biasanya, dipastikan akan mengalami kerugian dua kali lipat.

“Memang ini siklus setiap tahun, kopi saat panen perdana banyak yang kosong, karena pengaruh kemarau. Biasanya ketika mulai musim hujan, buah kopi akan kembali menjadi normal antara bulan Oktober – November mendatang. Harga pun akan normal kembali seperti biasa,” jelasnya.

Kemarau panjang yang sempat melanda Kabupaten Gayo Lues (Galus) sebelumnya telah menyebabkan para petani jagung gagal panen. Kekurangan air menyebabkan pertumbuhannya terganggu. Tanaman itu layu dan mati.

Bukan hanya itu, akibat gagal panen menyebabkan harga jagung melonjak menjadi Rp 4.000/kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp 3.200. Bukan hanya jagung, tanaman muda lainnya seperti cabe dan tomat juga mengalami hal yang sama.

“Saat ini harga jagung sudah mencapai Rp 4.000/kilogram di kabupaten itu, padahal banyak petani yang gagal panen akibat musim kemarau panjang sebelumnya yang menyebabkan mengalami kekeringan,” kata Selamat, petani jagung di Kutapanjang kepada Serambi, Minggu (16/9).

Menurut petani jagung itu, meskipun harga melonjak dan naik dari sebelumnya, namun hanya sebagian kecil petani jagung yang sempat menikmati dan memperoleh hasil panennya pada saat harga Rp 4.000. “Akibatkemarau panjang menyebabkan petani jagung gagal panen, karena mengalami kekeringan dan pertumbuhan tidak optimal,” sebut Selamat. Hal serupa diakui petani jagung lainnya di Blangjerango dan di Kecamatan Blangpegayon. srb.nik/kb.

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR