Aceh,Pertahankan Budaya Aduan Sapi

Aceh,Pertahankan Budaya Aduan Sapi

BAGIKAN

Jakarta -kamarberita.com. Mata mereka terpusat ke tengah lapangan layaknya menonton sepak bola. Adu sapi sedang berlangsung. Riuh tepuk tangan menggema kala sapi-sapi mengganas berusaha menjatuhkan lawan,Lima ratusan orang memadati lapangan sepak bola Limpuk Darussalam, Aceh Besar.

Hamok, nyak (lawan, nak),” kata pemandu di tengah lapangan. Sapi itu lalu menerkam lawannya dengan tanduk yang diruncingkan.

Saat sapi terdesak sampai ke pinggir lapangan, penonton lari menjauh, lalu mendekat lagi. Satu panitia memandu sorak dengan pengeras suara. “Ayo, jangan mau kalah.”

Sapi-sapi yang diadu ini juga punya nama. Sebut saja misalnya Cicem Pala Rimung, Apui Lam Seukem, dan Aneuk Muda Keudah. Cicem Pala Rimung adalah sapi yang sudah belasan tahun diadu dan jarang kalah. Ukurannya super. “Sapi saya sudah mulai bertarung sejak 15 tahun lalu, sangat ganas dan pengalaman,” ujar Effendi, sang pemilik.

Adu sapi adalah budaya Aceh Besar yang semakin jarang diperagakan. “Olahraga” untuk sapi itu hidup sejak zaman Kerajaan Aceh pada abad ke-16. Tak ada kematian sapi, yang ada hanya luka-luka. “Ini adalah tradisi yang ada sejak dulu, masa raja-raja. Kami bertanggung jawab untuk mewariskannya ke generasi muda,’ujar Hamdani, ketua panitia laga sapi.

Sapi-sapi didatangkan dari komunitas sapi adu yang berasal dari seluruh Aceh Besar. Ada delapan kelompok sapi adu yang masing-masing punya 30 sapi siap laga. “Satu hari per pekan biasanya hanya tiga sampai lima pasang yang diadu,” kata Hamdani.

Tak ada trofi untuk pemenang. Panitia hanya menyediakan uang ‘lelah’ untuk sapi-sapi sesuai kelasnya. Kelas A dibayar Rp 1 juta sekali tampil, kelas B sebesar Rp 600 ribu, dan kelas C sebesar Rp 400 ribu. Sekali tampil dalam aduan hanya 10 menit. Mereka diadu sesuai kelasnya, laiknya tinju.

Uang diambil dari karcis para penonton. Satu orang dipatok Rp 20.000 untuk menyaksikan laga itu. Penentuan kalah dan menang diserahkan kepada penonton yang melihatnya. “Jelas terlihat, yang kalah biasanya akan mundur dan menghindar,” ujar Hamdani.

Budaya adu sapi mempunyai manfaat sendiri bagi peternak sapi di Aceh. Mereka mendapatkan uang lebih dari jerih payahnya merawat sapi. Kerap sapi itu juga dipakai sebagai pejantan yang tangguh, yang mampu mewariskan bibit unggul bagi keturunannya. “Jadi bukan hanya sekadar adu dan ditonton, tapi juga banyak manfaat,”kata Hamdani.

Riuh tepuk tangan memenuhi lapangan, memberi semangat bagi yang menang dalam adu sapi yang menjadi budaya warisan leluhur. “Kami harus menjaganya agar tak punah,” ujar Hamdani. (lud.kb)

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR